Komitmen

Kuawali tulisan keduaku ini dengan kata RAGU. Ya, kata terakhir di tulisan pertama sebelumnya. Kata inilah yang paling sering muncul ketika cinta ini dimulai.

Ragu akan jarak yang mengganggu
Ragu harus menunggu dan menahan rindu,
Ragu banyak perbedaan untuk tetap menyatu,
Ragu apakah aku yang dia mau.

Cinta kami layaknya praktikum sains. Banyak unsur berbeda yang harus diramu agar tujuan tercapai. Prosedurnya belum tetap karena anomali hidup yang kami jalani. Dan hasilnya pun tidak bisa ditebak karena ego yang masih menguasi. Namun semuanya diminimalkan dalam 1 kata; komitmen.

Aku katakan kepadanya kalau aku mencari masa depan. Masa depan baru yang aku mulai dari sekarang. Surprisingly, dia juga punya arah yang sama seperti yang aku tuju. Namun penilaianku, dia terlalu dini jika melihat tahapan kehidupan yang baru dijalaninya. Masih banyak pengalaman hidup yang harus dia rasakan untuk mencapai kemandirian dan kedewasaan. Apakah aku sepenuhnya mandiri dan dewasa? Tentu tidak. Namun lebih banyak pengalaman hidup yang telah kujalani. Dan jika dia memang serius ingin bersamaku, maka dia harus siap tumbuh dan berubah bersamaku. Sekali lagi dia menunjukkan komitmennya padaku, pada masa depan yang kami impikan.
Tak ada pohon yang dibilang kuat tanpa badai yang menerpanya. Begitu juga suatu ikatan. Tidak akan berhenti berbagai masalah untuk menguji komitmen bersama.

Masa lalu bisa mengoyak manisnya rindu.
Keras kepala bisa menyamarkan rasa cinta.
Buruknya bicara bisa menggelapkan mata.
Ego berlebih bisa menjadi kecewa dan putus asa.

Namun kutunjukkan kalau aku tidak menyerah, kalau perjuangan ini tanpa akhir. Dan dia menampilkan hal yang sama dengan caranya. Sangat bahagia merasakan ini. Merasakan bahwa orang yang kamu pilih juga berkorban untukmu, dan rela sebagian dari dirinya menjadi dirimu. Itulah kebahagiaan sesungguhnya, yaitu menikmati proses. Proses menjadi lebih dewasa, memahami orang yang dikasihi, dan tetap menjaga komitmen bersama tanpa ada pilihan untuk putus asa.

Therefore, will she and I last forever? My answer is a resounding; absolutely Yes! We are two brave persons who already make a choice. And we commit to work for it, keep it, and fight for it.

–Tsalits Nugroho

0 comments:

Post a Comment